Kamis, 21 November 2013

PUISI HAMPA

BY Azzahra Nanda

Terkadang bingung..
Hampa..
Bimbang..
Melihat matahari yang tak lagi bersinar..
Merasakan panas saat hujan datang..
Mendengar suara tangis ketika tertawa..
Ada apa ini tuhan?
Akankah kehidupan kan terus berjalan>

Kurasakan hati ini telah tiada asa..
Jiwa ini telah di isi dengan kekosongan..
Jadi harus bagaimana lagi?

Akankah bulan dan matahari mencahayai disaat bersamaan?
kehampaan hati ini..
telah berubah jadi kebimbangan

Ahh sudahlah..
Kesedihan hati dan jiwa ini ..
takkan ada yang peduli..
Hanya kehampaan diri yang kurasa..
Maka aku bertanya kepada Tuhan
Dimana aku akan hinggap?
dimana aku kan berlabuh? disaat hati dan jiwa ini
Hampa..

PUISI SETITIK AWAN

BY Azzahra Nanda

Setitik
Ya, hanya setitik
Setitik awan di tengah kegelapan

Dan sekarang
Aku menunggu
Menunggu adanya keajaiban
Keajaiban dahsyat yang tuhan beri
Satukan setitik awan itu

Namun bisakah?
Bisakah setitik awanku berbaur?
Akankah setitik awanku menyatu? Setitik awanku..
kan tetap menjadi setitik
dan akan selalu setitik
sekarang dan selamanya

Selasa, 20 Agustus 2013

Dia..

Tuhan..
Setiap hari aku memikirkannya..
Tiada hari kulewati tanpa menyebut namanya..
Jika aku telah tiada..
Jaga Dia.
Kirimkan malaikat untuk menjaganya..
Setiap hari aku mencoba menjadi apa yang dia minta..
Mencoba bersikap baik kepadanya..
Tetapi tetap saja..
Sikapku selalu salah dihadapannya..
Sampai akhirnya masa itu tiba..
Dimana aku telah lelah mendengar amarah darinya..
Dimana batinku menangis ketika dia berbicara..
Oh Tuhan..
Bisakah aku dan dia memiliki kisah indah diakhir cerita..?

YOUR EYES SPEAK TO ME (PART 3)

         Setelah hal yang kurang enak dirasa maupun dilihat itu terjadi. Barulah aku tersadar bahwa itu hanya mimpi. Ada apa ini? kenapa aku memimpikan orang yang tidak aku cintai sama sekali. Harusnya aku memimpikan Auzar. Oh Tuhan, apa artinya semua ini.
         Sesaat aku diam dalam hening. Tiba-tiba aku mendengar suara tuts piano bermain dengan tenang. aku berusaha berjalan tanpa tongkat. aku berdiri di dekat jendela kamarku dan membuka telinga ku lebih lebar. 'Siapa yang memainkan piano itu?' ucapku bertanya dalam hati. Tak lama, mulai aku merasakan ketenangan dan kedamaian, Lagi-lagi aku begitu mengenal permainan tuts piano itu. Terbayang di benakku seseorang yang setiap hari datang ke rumahku hanya sekedar untuk melihat ku. Ya aku yakin itu dia. Bisakah aku melupakannya. Aku masih ingat ucapan seseorang lelaki yang berjanji kepadaku. "Ren, hanya kamu yang akan aku ingat disaat aku terbangun. Aku akan menunggu kamu. Terserah bagaimana keadaan mu nanti. Aku tetap mencintaimu sepenuh hati." Tapi, bisakah aku menjaga kepercayaannya. Sedangkan kini ada lelaki baru yang perlahan telah merubah cara berpikirku untuk hidup. Tapi bagaimana dengan Auzar. Masihkah dia mengingatku? Masihkah dia ingat janji dia dan aku dulu? Ahh.. lagi-lagi.

Minggu, 28 Juli 2013

YOUR EYES SPEAK TO ME (PART 2)

     Setelah cukup lama duduk dan mendengarkan beberapa lagu favorit ku. Aku memutuskan untuk keluar rumah sebentar. Aku meraba-raba barang-barang disekitar ku. Berharap aku bisa menemukan tongkat ku. "Bruuuk!!" tiba-tiba terdengar suara keras. Sepertinya aku menjatuhkan salah satu barang yang biasa Bunda letakkan di atas meja dekat sofa ruang tengah. Aku berusaha turun dari sofa perlahan. Berharap Mbok Sum tidak menyadari insiden ini. Aku kembali meraba-raba barang-barang disekitarku. Tapi tetap saja aku tidak menemukan apa-apa. Tak lama berselang, aku mendapatkan tongkatku dan mengenakan kacamata yang biasa aku kenakan jika keluar rumah. Tapi yang jelas bukan kacamata hitam ya. heheee..

     Aku berjalan perlahan, setapak demi setapak. sampai tongkat ku menabrak barang keras di depannya. Ya. Aku tahu bahwa aku sudah berada di depan pintu rumahku. Perlahan aku meraba gagang pintu dan membuka kuncinya. Aku membuka pintu dan membiarkannya terbuka agar aku lebih mudah jika ingin masuk kembali. Badanku sedikit berbelok ke kanan. mencari dimana kursi teras rumah yang biasa aku duduki. Setelah mendapatkannya, aku segera duduk dan merebahkan badanku. Aku menghirup udara segar pagi hari yang sejuk dan menghangatkan. Sepertinya hari ini matahari sedang cerah, karena aku merasakan kehangatan yang nyaman.

          Tak lama berselang aku hanya terduduk diam di kursi teras, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilku dari kejauhan. "Rena!! Rena!!" Aku mendengarkan baik-baik suara itu. Suara serak basah yang terdengar lebih berat dari biasanya. Yang jelas, tidak mungkin Mbok Sum yang memanggilku. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. "siapa ya?" ucapku yang mungkin menghentikan langkah seseorang itu. "Ren, it's me. Your boys. remember?" berselang dengan suara itu , tak lama aku merasakan seseorang menyentuh lengan kanan ku. dan aku merasakan kehangatannya. Ya, itu Mario. Mario adalah sesosok pemuda yang belakangan ini sedang dekat denganku. Dia bukan teman sekolahku. Dia tetanggaku sejak 1 tahun lalu. Aku jarang keluar rumah, tapi dia yang selalu mendatangi ku hampir setiap hari kecuali hari senin. Entah mengapa hanya Senin dia tidak pernah mengunjungi ku. "Apa kamu bilang tadi? 'my boy' ? sejak kapan kita pacaran?" ucapku dengan nada sok angkuh sambil mencubit salah satu bagian tubuhnya sehingga dia meringis kesakitan. "Sakit ,Ren!" ucapnya sedikit berteriak. "Kan lagi akting, masa nggak ngerti sih.." ucapnya mengejek ku. " Mana aku ngerti, kirain tadi siapa manggil-manggil sambil teriak. Aku nggak budek kali.." . "Ohh kamu nggak budek ya? kirain cewe cantik di depan ku ini ,cewe budek.. heheheee.." .  "Ahh.. males ngejekin terus .." ucapku sedikit lesu dan marah. "Eleehh.. si Rena ngambek lagi.. Ia Baginda Ratu.." Ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Nggak lucu!" ucapku benar-benar kesal. "Iya deh, maafin aku dong. Aku kan cuma amin-main." ucapnya lembut sambil menarik tongkat ku yang mengakibatkan aku terjatuh. "Ahh sakit!!" Ucap ku berteriak, sehingga Mbok Sum langsung mendatangi aku dan Mario. " Non, kenapa? Jatuh lagi ya?" ucap Mbok Sum yang kira-kira berada kurang lebih 5 meter dariku. "Nggak apa-apa kok" ucapku menahan sakit. "Nggak apa-apa gimana? lutut kamu biru gitu."  Ucap Mario khawatir. "Ini semua gara-gara aku sendiri kok, nggak hati-hati." . " Sudah-sudah, masuk aja Non. Ayo nak Mario! masuk juga.." ucap Mbok Sum sembari mengangkat badanku dan menuntun aku berjalan.

Sabtu, 27 Juli 2013

YOUR EYES SPEAK TO ME (PART 1)

Hari ini kekelaman kembali menghampiri ku. Aku baru tersadar, ternyata kebahagiaan yang semalam ku rasakan hanyalah angan-angan dan mimpi yang hanya mustahil untuk aku raih. Rasanya aku ingin cerita banyak kepada mu. Ya, tentang semua keseharian ku. tentang semua mimpi ku yang harus ku kubur dalam-dalam karena kehadiran orang baru di sisimu. Entah mengapa, aku belum bisa merelakan kepergian mu dari ku. ya.. Ini aneh.. Gila.. dan Impossible.. Tapi aku yakin, Telah ada rencana indah yang Tuhan sembunyikan dari ku. Walau aku tidak yakin.. apakah rencana itu akan seindah yang kubayangkan?.. ataukah lagi-lagi hanya angan-angan? entahlah, lihat saja nanti.
     
       Pagi ini, ya seperti biasa. Aku membuka mataku perlahan. Tetap hampa, sepi , dan gelap gulita. Ya, aku gadis tuna netra. seperti pada umunya. Gadis sepertiku hanya punya satu mimpi. ya apalagi kalau bukan ingin melihat dunia yang kata bunda ku begitu indah. Seindah paras wajah ku. ya, tetap saja aku hanya bisa merasakan, mendengar , dan membayangkan.

       Aku sedang terduduk di kasur empuk ku. Aku hanya menunggu bantuan seseorang pahlawan yang setiap pagi memberikanku tongkat untuk aku berjalan. ya, mungkin sudah lima belas menit aku terdiam.belum ada kabar baik yang datang. Aku putuskan untuk meraba-raba, mencari dimana tongkat ku bunda sembunyikan. tapi lagi-lagi kesialan menghampiri ku pagi ini. Aku terpeleset dan daguku menghantam tembok kamarku. "Bruuuk!!" . "Aduuuh!!" sialnya lagi eksperimen ku pagi ini terbongkar karena suara gaduh hantaman dagu ku dan saat aku terjatuh aku sedikit menyeret benda-benda yang ada di atas meja belajarku ke lantai. "Gubrak!!" Oke. sepertinya ini minggu sial ku.

      "Suara apa , non?" sepertinya suara menggelegar mbok sum mengagetkan ku. "Ndak, mbok." Ucapku agak sedikit berteriak. Terdengar suara langkah kaki dan tak lama dari itu menyusul suara pintu terbuka. "Ya ampun Non! kok dagunya berdarah?" suara Mbok Sum lagi-lagi mengagetkan ku. "Berdarah ya , Mbok?" Ucapku sambil berusaha menyentuh bagian daguku. "Ahhhh sakit" ucapku sedikit meringis kesakitan. "Sini, Mbok bantuin" dan terasa sebuah tangan yang sudah kasar dan keriput menyentuh lengan sebelah kanan ku dan membantuku bangun dari lantai. Mbok mendudukkan ku kembali di kasur ku yang empuk, dan menyenderkan punggungku di dinding. terdengar suara kasak kusuk dan langkah kaki Mbok Sum yang terburu-buru. Aku hanya bisa pasrah. Menunggu tanpa ada kepastian.

      Tak berselang begitu lama. Aku merasakan daguku ditempeli lap atau handuk yang sebelumnya sudah dicelupkan air hangat. "Aduhh..sakit, Mbok." ucapku kembali meringis kesakitan. "Sabar ya , Non. Biar cepet sembuh lukanya. Non sih, nggak panggil Mbok dulu, jadinya begini kan." . " Tadi aku nungguin Bunda, Mbok. Kan biasanya Bunda yang masuk kamar. Kok aku tungguin nggak ada yang masuk." Tanya ku kepada Mbok Sum . "Ohh, tadi itu Bunda berangkat ke Bali, Non. mendadak katanya ada masalah sama perusahaan Bunda disana." Ucap Mbok Sum lugas. "Oh, sebegitu sibuk nya ya Bunda belakangan ini." ucapku sedikit kecewa. "Udah ,Non. Kan ada Mbok. Jangan sedih ya , Non." . Ya. seperti biasa, ucapan Mbok hanya ku jawab dengan anggukan pelan. Huh, lagi-lagi.

     Setelah Mbok mempersiapkan air hangat untuk mandi ku serta baju yang akan kupakai. aku langsung meluncur ke kamar mandi yang terletak tak jauh dari meja belajarku. Walau aku tuna netra, tapi aku bisa melakukan hal-hal seperti ini sendiri. Ya, aku sudah buta sejak berumur 7 tahun. Karena kecelakaan beruntun saat  mudik lebaran yang menewaskan paman ku dan Ayah, Ahh lagi-lagi ingatan itu kembali terputar di otakku. seolah-olah baru saja terjadi beberapa detik lalu. Setelah selesai mandi dan mengenakan baju sendiri. aku berusaha meraba-raba pintu keluar kamar mandi ku. setelah kaluar kamar mandi, kembali terasa tangan hangat yang tidak halus lagi menyentuh tangan ku dan membimbing ku keluar dari kamar menuju ruang tengah. setelah aku duduk di sebuah sofa yang empuk dan nyaman, tangan itu melepaskanku. Oke sekarang aku sendiri. Aku mencoba meraih Ipod ku untuk mendengarkan beberapa lagu. ya, hanya itu yang bisa aku lakukan di hari minggu. Aku menekan salah satu tombol yang ternyata itu tombol shuffle. Tiba-tiba terputar lagu Maudy Ayunda-Tahu Diri.

Hai..
Selamat bertemu lagi..
Aku sudah lama.. Menghindarimu..
Sialkulah.. Kau ada disini..
Sungguh tak mudah bagiku..
Rasanya tak ingin bernapas lagi..
Tegak berdiri di depan mu kini..
sakitnya.. menusuki jantung ini..
melawan.. cinta yang ada di hati..
Dan upayaku tahu diri..
Tak selamanya berhasil..
pabila, kau muncul terus begini..
tanpa pernah kita bisa bersama
pergilah,, menghilang sajalah lagi..

Ya. sepintas lagu itu sedang menggambarkan perasaanku hari ini. Lagi-lagi lagu itu terhenti karena aku tak sengaja menekan tombol shuffles. Tiba-tiba terputar kembali lagu Maudy Ayunda yang dia recycle yaitu First Love.

Everyone can see..
There's a chance in me..
They all say i'm not the same
kid i use to be..
don't go out and play..
i just dream all day..
They don't know what's wrong with me
and i'm to shy to say..
it's my first love.. what i dreaming of..
when i go to bed.. when i lay my head upon my pillow..
don't know what to do..

Ya. lagu ini juga mengingatkanku pada seseorang yang pernah menaruh hati padaku. ya, kira-kira 3 tahun lalu. Auzar. Ya, tetanggaku selama aku berada di Melaka. Dia orang malaysia, tapi dia satu-satunya orang yang mengerti bahasaku. Entah mengapa, tidak bisa satu hari aku lewati tanpa bersamanya. sampai akhirnya, Bunda memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Dan ku mulai hari itu tanpa nya. Ahh.. lagi-lagi aku mengingatnya.

Jumat, 21 Desember 2012

PUISI

Tanah Air Mata
Oleh : Sutardji Calzoum Bachri

Tanah airmata tanah tumpah dukaku
mata air airmata kami
airmata tanah air kami
di sinilah kami berdiri
menyanyikan airmata kami
di balik gembur subur tanahmu
kami simpan perih kami
di balik etalase megah gedung-gedungmu
kami coba sembunyikan derita kami
kami coba simpan nestapa
kami coba kuburkan duka lara
tapi perih tak bisa sembunyi
ia merebak kemana-mana
bumi memang tak sebatas pandang
dan udara luas menunggu
namun kalian takkan bisa menyingkir
ke manapun melangkah
kalian pijak airmata kami
ke manapun terbang
kalian kan hinggap di air mata kami
ke manapun berlayar
kalian arungi airmata kami
kalian sudah terkepung
takkan bisa mengelak
takkan bisa ke mana pergi
menyerahlah pada kedalaman air mata

(1991)


Karawang Bekasi

Chairil Anwar


Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi


Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh