Minggu, 28 Juli 2013

YOUR EYES SPEAK TO ME (PART 2)

     Setelah cukup lama duduk dan mendengarkan beberapa lagu favorit ku. Aku memutuskan untuk keluar rumah sebentar. Aku meraba-raba barang-barang disekitar ku. Berharap aku bisa menemukan tongkat ku. "Bruuuk!!" tiba-tiba terdengar suara keras. Sepertinya aku menjatuhkan salah satu barang yang biasa Bunda letakkan di atas meja dekat sofa ruang tengah. Aku berusaha turun dari sofa perlahan. Berharap Mbok Sum tidak menyadari insiden ini. Aku kembali meraba-raba barang-barang disekitarku. Tapi tetap saja aku tidak menemukan apa-apa. Tak lama berselang, aku mendapatkan tongkatku dan mengenakan kacamata yang biasa aku kenakan jika keluar rumah. Tapi yang jelas bukan kacamata hitam ya. heheee..

     Aku berjalan perlahan, setapak demi setapak. sampai tongkat ku menabrak barang keras di depannya. Ya. Aku tahu bahwa aku sudah berada di depan pintu rumahku. Perlahan aku meraba gagang pintu dan membuka kuncinya. Aku membuka pintu dan membiarkannya terbuka agar aku lebih mudah jika ingin masuk kembali. Badanku sedikit berbelok ke kanan. mencari dimana kursi teras rumah yang biasa aku duduki. Setelah mendapatkannya, aku segera duduk dan merebahkan badanku. Aku menghirup udara segar pagi hari yang sejuk dan menghangatkan. Sepertinya hari ini matahari sedang cerah, karena aku merasakan kehangatan yang nyaman.

          Tak lama berselang aku hanya terduduk diam di kursi teras, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggilku dari kejauhan. "Rena!! Rena!!" Aku mendengarkan baik-baik suara itu. Suara serak basah yang terdengar lebih berat dari biasanya. Yang jelas, tidak mungkin Mbok Sum yang memanggilku. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. "siapa ya?" ucapku yang mungkin menghentikan langkah seseorang itu. "Ren, it's me. Your boys. remember?" berselang dengan suara itu , tak lama aku merasakan seseorang menyentuh lengan kanan ku. dan aku merasakan kehangatannya. Ya, itu Mario. Mario adalah sesosok pemuda yang belakangan ini sedang dekat denganku. Dia bukan teman sekolahku. Dia tetanggaku sejak 1 tahun lalu. Aku jarang keluar rumah, tapi dia yang selalu mendatangi ku hampir setiap hari kecuali hari senin. Entah mengapa hanya Senin dia tidak pernah mengunjungi ku. "Apa kamu bilang tadi? 'my boy' ? sejak kapan kita pacaran?" ucapku dengan nada sok angkuh sambil mencubit salah satu bagian tubuhnya sehingga dia meringis kesakitan. "Sakit ,Ren!" ucapnya sedikit berteriak. "Kan lagi akting, masa nggak ngerti sih.." ucapnya mengejek ku. " Mana aku ngerti, kirain tadi siapa manggil-manggil sambil teriak. Aku nggak budek kali.." . "Ohh kamu nggak budek ya? kirain cewe cantik di depan ku ini ,cewe budek.. heheheee.." .  "Ahh.. males ngejekin terus .." ucapku sedikit lesu dan marah. "Eleehh.. si Rena ngambek lagi.. Ia Baginda Ratu.." Ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Nggak lucu!" ucapku benar-benar kesal. "Iya deh, maafin aku dong. Aku kan cuma amin-main." ucapnya lembut sambil menarik tongkat ku yang mengakibatkan aku terjatuh. "Ahh sakit!!" Ucap ku berteriak, sehingga Mbok Sum langsung mendatangi aku dan Mario. " Non, kenapa? Jatuh lagi ya?" ucap Mbok Sum yang kira-kira berada kurang lebih 5 meter dariku. "Nggak apa-apa kok" ucapku menahan sakit. "Nggak apa-apa gimana? lutut kamu biru gitu."  Ucap Mario khawatir. "Ini semua gara-gara aku sendiri kok, nggak hati-hati." . " Sudah-sudah, masuk aja Non. Ayo nak Mario! masuk juga.." ucap Mbok Sum sembari mengangkat badanku dan menuntun aku berjalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar