Minggu, 25 Oktober 2015

Cerpen: Happiness

By Azzahra Nanda Islami

Setiap orang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Karena memang pada dasarnya, bahagia adalah hakikat hidup setiap manusia. Aku terlahir di keluarga yang luar biasa hebatnya. Di keluarga yang sangat sederhana dengan setiap kebahagiaan yang ada. Kedua orang tua yang begitu sabar dan telaten membesarkanku dengan jutaan hambatan dan cobaan dari Allah . Jika ditanya "Apakah aku bahagia?" , maka dengan lantang dan tegas aku menjawab "Aku sangat bahagia" . Bagaimana bisa aku bahagia dengan segala kesedihan yang ada. Dengan segala ancaman kekecewaan dan keputusasaan.
Aku dilahirkan untuk menciptakan senyuman pada setiap orang. Aku ada disini untuk memberi kebahagiaan sekecil apapun untuk orang disekitarku. Bahagia, adalah satu kata yang begitu aku impikan kan terjadi selama hidup kita. Walau pada kenyataannya Allah selalu memberikan kebahagiaan setelah adanya kesedihan dan duka yang mendalam.
Aku tidak pernah ingin diminta untuk dikenang. Aku juga tidak pernah ingin namaku berada di museum atau dituliskan di media cetak untuk diketahui banyak orang. Aku adalah remaja perempuan berumur enam belas tahun biasa dan sama seperti remaja lainnya. Remaja yang menginginkan teman, persahabatan, kebebasan dan segalanya. Aku sama seperti mereka, hanya saja aku tak ingin orang tahu tentang ku. Tahu bagaimana perihnya hatiku saat begitu banyak cobaan menghantamku.
Aku divonis dokter terkena penyakit Diabetes Melitus di umur 11 tahun. Pada awalnya berat mengetahui bahwa perubahan besar dalam hidupku yaitu turunnya berat badan hingga 20kg dalam jangka waktu sebulan bukan bertanda bahwa pubertas atau keremajaan. Itu pertanda yang akan mengakibatkan puluhan tahun kedepan akan banyak perubahan-perubahan yang luar biaa dalam hidupku. Sebelum divonis dokter, aku baik-baik saja. Hanya aku selalu merasa haus dan ingin buang air kecil tanpa henti. Badanku lemas seperti tak bertenaga. Luka kecil yang ada ditubuhku tak kunjung mengering dan malah meninggalkan bekas. Pertama kali dokter memvonis, aku tak pernah tahu kalau hidupku akan berubah sederastis ini. Pola makan yang diatur, tidak boleh makan ini itu, perbanyak olahraga ditambah lagi harus suntik insulin setiap harinya. Dokter memberikanku insulin Novorapid dan Levemir. Novorapid disuntikkan 3 kali sehari sebelum makan pagi,siang dan malam. Sedangkan Levemir dipakai sekali sehari pada jam 10 malam.
Mendengar kata-kata jarun suntik. Siapa yang sudah bisa membayangkan betapa bahagianya hidupku kedepannya harus bersahabat dengan jarum-jarum itu setiap harinya. Alangkah bahagianya aku akan mengatur pola makan yang lebih sehat agar gula darah ku terjaga. Belum lagi cek organ tubuhku yang lain untuk pencegahan komplikasi dini. Begitu amat sangat bahagia. Sangat tak bisa kubayangkan bahwa hidupku nanti sama bahagianya seperti dongeng-dongeng yang aku impikan. Kedua orangtua yang selalu tabah mendampingiku dalam masa pengobatan dan check up. Adik-adikku yang selalu mengukir tawa disetiap jarum suntik yang masuk kedalam tubuhku. Dan sahabat-sahabatku yang luar biasa bisa menerimaku di berbagai kondisi tersulit dalam hidupku. Semua adalah kebahagiaan yang tak terbayarkan.
Ternyata bayanganku tentang masa depan bahagia benar. Allah benar tentang kebahagiaan yang Ia berikan kepada seluruh umatnya yang beriman. Semua benar-benar nyata.
Sampai saat itu tiba, Aku mulai bosan dan merasakan sakit yang amat luar biasa saat menyuntik, aku mulai malas mengatur pola makan dan tidak boleh makan ini itu sesuka hatiku. Aku mulai jarang menyuntik dan badanku semakin lemas. Aku memakan apapun yang kumau, disaat yang bersamaan muncul masalah dengan persahabatanku. Muncul masalah yang aku sendiri pun tidak mengerti mengapa aku harus disalahkan atas hal yang tidak kulakukan sama sekali. Aku mulai malas belajar, malas untuk bersekolah, malas untuk sholat. Timbul benci dan iri di hatiku. Kepada teman-temanku yang bis bebas makan ini itu tanpa harus mengatur pola makan sepertiku, Timbul benci kepada semua orang yang sehat dan tidak merasakan apa yang kurasakan. Timbul benci kepada semua keluarga harmonis yang begitu bahagia hidupnya. Sedangkan aku, semua masalah itu muncul tak berhenti dan tak terselesaikan. Kesehatan tubuhku yang menurun, gula darahku yang tak terjaga , Bullying yang menghampiriku, Tekanan batin karena permasalahan orang tua,ditambah lagi penyakit ASMA ku makin menjadi-jadi. Semua tampak tak berguna. Hidup bahagia yang aku impikan tak ada. Itu semua hanyalah hayalan yang tak akan pernah menjadi nyata. Semua bak sampah. tak bersisa. Aku benci hidupku yang sekarang. Aku menginginkan kehidupan ku yang lama. Mana kebahagiaan yang telah dijanjikan? Semua bohong padaku. Untuk apa aku tersenyum dan menyimpan masalah. Untuk apa aku berbahagia ditengah penderitaan yang tiada habisnya? untuk apa aku ada jika pada akhirnya aku tak diinginkan dan hanya akan dilupakan.
Itulah kegundahan hatiku yang hanya bisa kuluapkan lewat tulisan di secarik kertas buku harianku.
Aku mencari-cari sesuatu yang telah hilang dari diriku. Sesuatu yang telah direnggut dan tak bisa dikembalikan. Sesuatu yang akupun tak tahu apa itu. Kebahagiaan apa ini? Inikah kebahagiaan itu ya Allah..
Bersambung......(Part II)

Selasa, 06 Oktober 2015

Salah siapa?

Gemericik hujan yang kami rindukan
Kini nampak jauh tak tergapai

Tatkala tiap hembusan paru-paru ini
Membawa perih meradang di dalam hati

Fajar menyingsing yang kami tunggu
Seperti tak pernah datang setiap waktu
Tertutup abu 
Pekat menusuk 

Dibalik penutup ini kami bernapas
Dibalik setiap derita yang kami jalani
Masih tersimpan harapan kembali

Ketika adik-adik kecil kami terbatuk-batuk
Bak menghisap racun disetiap pagi
Pagi yang seharusnya dirindukan
Kini tersisihkan oleh udara bersih yang amat dibutuhkan

Entah ulah siapa
Dan Karena siapa ini terjadi 
Namun salah kami apa?

Kami hanyalah pelajar penyongsong hari esok 
Kami pergi sekolah setiap matahari terbit
Namun kini ,
Kami tak rasakan matahari
Kami ke sekolah untuk menuntut ilmu
Bukan meneguk abu

Diliburkan tiada henti
Kini materi pelajaran yang membuntang
menunggu kabut asap berhenti datang
seperti menunggu sebuah keajaiban dalam kandang

Gelisah setiap hari
Tatkala harus menerjang jalanan
Yang amat gelap tak terpandang lagi
Mata perih memerah
Lelah takkan terlukiskan
Kini membekas dihati setiap orang

Salah kami apa?
Disiksa setiap waktu
Dipaksa menghabiskan jutaan oksigen kotor setiap harinya

Dibalik setiap sujud kami 
tersisih satu harapan
tuk bisa mendapatkan kebebasan
hembusan napas yang amat dirindukan

Lalu sekarang salah siapa?
Apakah alam telah lelah pada kita semua?

Senin, 10 Agustus 2015

Masa


By Azzahra nanda

Tatkala hati perih tertindih
Merindu mu di sepanjang lintas waktu
Berdoa di setiap sujud 
Berharap semua tak terulang

Tatkala hati tertusuk di lapisan terdalam
Memanggilmu di setiap detik lintas masaku
Kupikir kau jawaban disetiap doa
Doa ku yang penuh sedu di setiap harinya

Tatkala jiwa terbang merana
Mengukirmu di setiap jenjang ubin yg ku pijak
Bagaimana bisa ku pijak impian ketika ku masih jauh di atas sana

Tatkala hati dan jiwa berkabuh
Akankah ada rindu disetiap senja
Meredam asa di setiap fajar 
Menggenggam dan melepaskan

Tatkala tubuh ringkih ini tegap berdiri
Haruskah aku berlari mengejar masa
Menggapai dan tak pernah sampai

Tatkala bagian terdalam diri ini berhenti berdetak
Masih bisakah berharap disetiap lintas yang ada

Tatkala keheningan memecah keramaian
Takkan ada lagi yang peduli
Karena setiba kau disini
Hanya ada cahaya ruang dan waktu
Menyesakkan dada menyilaukan mata
Membawamu pada masa

Selasa, 16 Juni 2015

Satu

Ketika setitik asa mengembangkan sayap
Ingin terbang jauh tinggalkan semua
Tatkala hati tertambat pada satu
Tatkala jiwa selaras angin berhembus setiap waktu
Cahaya diujung jalan mengintip
Mentari seolah membuntutku setiap detiknya

Ketika hati ini terketuk oleh satu 
Bak berada jauh dari istana megah nan indah
Mencoba masuk tapi tak kan mampu
Kuberharap tuk tak jatuh lagi
Namun
Tatkala hati ini jatuh pada satu
Sungguh
Aku tak ingin ini kembali terjadi
Ketika aku benar-benar takut kehilanganmu
Ditengah gemerlap cahaya terang
Tertutup debu tebal antara cinta dan kejujuran

Hati ini tertambat pada satu
Hati ini jatuh pada satu
Ribuan cara kumenolak
Tetap
Jiwa ini telah tersentuh pada satu

Kamis, 23 April 2015

Indonesiaku!

Alangkah kejam dunia
Menorehkan garam diatas luka

Alangkah tak adilnya Indonesia
Menghukum ratusan koruptor
dalam belenggu kemakmuran
Membiarkan jutaan kaki tangannya
melayani nya penuh kebahagiaan

Alangkah gila nya ketidakadilan ini!
Mengurung ratusan juta
orang tak bersalah
bertahun-tahun lamanya
Membiarkan perusahaan kecil
pencuri kayu bebas merana
Namun mengurung bertahun-tahun
seorang nenek pencuri sandal tanpa dosa

Indonesiaku
Akankah selamanya seperti ini?
Membelenggu jutaan makhluk tak berdosa
Dan membebaskan milyaran penjahat
pencuri harta

Dimana Indonesia ku dulu?
Dimana?
 

Minggu, 22 Februari 2015

Tinggalkan dia Demi Dia

Bergumam dalam diam
Tangis ku dalam setiap tasbih cinta
mengangkat derajat hati
demi Sang Ilahi
Demi Bumi yang diam dalam hening
Demi hati yang menangiskan perih
Mengutuk semua akan kesedihanku
Mengacuhkan ku
Menjatuhkan ku
Tiada hati jiwa porak poranda
Menjatuhkanku dari langit ke 7
Memperjuangkan ku demi-Nya
Pangeran surga tak ku temukan jua
Menghadap sang Penguasa cinta
Bisik halus cinta suci berkata
Tinggalkan dia Demi Dia

Minggu, 15 Februari 2015

Sepi Sendiri

Ku lebih senang menyendiri
Berkisah dengan cermin
Menangis bersama hujan
Menenggelamkan awan hitam
Semua ingin kulakukan

Hingga tak seorang pun tahu
Ada apa dengan ku sebenarnya

Ku lebih suka diam hening sepi
Dibanding ramai sorak bersuara

Ku jauh lebih bahagia sendiri
Berbagi cerita dengan alam
Mendengarkan keluh kesah dunia
Menjauh dari hiruk pikuk hidup

Hanya aku
Karna ku memiliki dunia ku
Yang takkan pernah sama denganmu

Jutaan kali ku menjelaskan
Takkan ada yang tahu
Ada apa denganku..

Tak apa kau katakanku berbeda
Karna memang ku begitu

Hingga pada akhirnya
Ku tak pernah temukan sisi nyamanku
Ditengah ramai sorak dunia

Ku menyukai
Dunia sepiku
Hanya ada aku
Alam
Dan Tuhan

Rabu, 11 Februari 2015

ANGIN

Puisi:
Angin
KARYA AZZAHRA NANDA ISLAMI

Langkahku
Setapak demi setapak melawan angin
Telusuri takdir ini
Mencari penghuni hati
Dengan restu Sang Ilahi
Menahan hati tuk cinta
Demi Istiqomah dijalan-Nya

Penuh sesak jiwa ini
Melawan godaan duniawi

Aku diterpa angin kencang
Menunggu seseorang tuk datang

Tak perlu setampan Nabi Yusuf as
Tak perlu pula sesempurna Nabi Muhammad saw

Yang kubutuhkan hanya sebuah jalan kepada-Nya
Seseorang yang bisa bawaku ke surga
Yang bisa bahagiakanku karna imannya
Juga bisa memakmurkanku dengan harta halal nya

Ingin mencintai
Bak angin halus gemulai
Terasa sejuk namun tak terlihat adanya

Haruskah ku berdiri menantang angin?
Ataukah diam mengikutinya?

Namun angin cinta ku ingin berlabuh jua
Walau tak kutemukan tempat berlabuh

Tabah sabarku
Menunggu masa itu tiba
Dimana Sang pemilik hati
Kan merestui ku
Tuk bersama calon penghuni hati ini
Dan kan terkunci sampai ajal nanti

Ku kan tetap ikuti alur angin
Hingga tiba masanya
Anginku membawaku
Temukan pangeran surga ku

Rabu, 11 Februari 2015

Sabtu, 07 Februari 2015

Kau

Kau.
Iya kau.
Yang hanya sebatas hayalan
Kau yang hanyalah angan
Dan kau yang hanya sebuah impian
Yang kukejar tak kudapat
Kugapai pun tak ku genggam
Mencintaimu adalah hal terindah

Kau
Iya kau
Sejuta cahaya penerang
Membawaku jauh ke pelosok labirin cinta
Tersadar ku jatuh dari angkasa

Kau
Iya kau
Yang hanya bisa kupandangi
Sebatas senyum keikhlasan hati
Yang hanya bisa kukirimi isyarat
selembut hembusan udara

Kau
Yang aku kagumi dalam syahadat cinta
Ku mengucap syukur pada Nya
Dalam setiap doaku
Terselip namamu dalam setiap syahduku
Menggores setiap detik demi detik
Dan berharap
Agar kau menjadi milikku

Minggu, 25 Januari 2015

Sesatkan Angan

Dingin menembus tebalnya kulit
Berat langkah menarik beban
Beban perih yang meradang

Terdiam hening hampa
Jiwa kosong yang ternganga
Seakan menyepi sendiri
Seakan lupa apa yang terjadi

Mentari seolah menjemput
Membantu sinari kabut
Menggenggam langkahku

Tak satupun membantu
Tak jua diri ini tertolong

Kenyataan menamparku
Sadarkanku dari angan tinggi
Menyesatkan harapan
Jatuhkan impian
Seolah ber isyarat
Ikhlaskan
Jangan berlarut dalam

Selasa, 20 Januari 2015

Kembali

Rembulan mengintip diujung jendela
Seakan ingin tahu ada apa denganku

Senyapnya hati
Menghantarkan rasa itu kembali
Dibalik sepuluh tangkai bunga yang kubeli
Tersisip sebuah harapan tuk kembali

Setiap langkah ku melewatimu
Kuperhatikan apapun tentangmu
Warna matamu
Lengkung bibir mu

Dibalik senyum mu yang tak kubalas
Tersimpan jutaan makna cinta rahasia

Ketika usaha ku gagal tuk membalikan waktu
Akankah gagal pula
Usahaku membuatmu kembali padaku?

Dibalik asa yang menyepi diujung jalan
Kuingin kau tahu
Kembalilah padaku

Rabu, 07 Januari 2015

Cinta

Tenggelamkan rasa ku
Jatuhkan harapan ku
Kubur saja semua
Agar ku tak tau apa rasa mencinta
Agar ku tak mengerti apa cinta sejati

Buang saja untaian kasih
Hilangkan saja semua
Lenyapkan asa
Agar ku takkan pernah mengerti
Mengapa cinta datang
Untuk apa mencinta
Dan dengan siapa ku jatuh cinta

Gali lah sedalam kau bisa
Jangan sampai kau temukan butiran lalu
Kenangan yang tak pernah kuharap

Hancurkan saja semua
Hingga keping-keping tak bersisa
Juga agar ku tak mengenal
Apa itu cinta

Agar ku kembali pada masa
Cinta muda
Cinta tak kenal sakit
Dibanting atas bawah
Bernafas menahan hujaman perih
Tak kenal lelah mengejar hati

Sudah
Sudahlah
Tak akan ada cinta
Setelah ini

Sampai pada akhirnya
Kutemukan arti cinta sejati semati

Selasa, 06 Januari 2015

Sesal

Akankah ada aku yg kau rindukan nnti
Akankah aku kan kau cintai sepenuh hati
Bisakah aku memiliki

Sudahlah
Angan-anganku terlalu tinggi
Kau yang ku siasiakan
Kini telah bersama bidadari baru
Sesalku pernah berlaku itu kepadamu
Kini karma telah berlaku
Semua berbalik kepadaku

ingin rasanya membalik waktu
Tapi bagaimana lagi
Takdir bahagia bukan milik kita bukan?

Senin, 05 Januari 2015

Lelah

Hari ini
Yang dulu tak pernah sama
Asa ku telah terbang bersama kepingannya
Akankah ada cinta baru terukir setelah ini?

Batin ini telah lelah
Jiwa ini telah rapuh
Ketika melangkah pun tak bisa
Menatap langit pun aku tak sanggup

Ada ribuan tawa menerpa
Namun tak satupun bisa ubah hati ini
Ada jutaan keindahan menyapa
Namun tak satupun bisa ubah semua

Sampai pada akhirnya
Dimana mulut ini telah tak bisa berkata
Dimana telinga ini telah lelah mendengar
Dimana hati dan jiwa ini telah luluh kesah

Namun apa dayaku Tuhan?
Hanya saja
Aku dan dia
Kan menuai luka