Gemericik hujan yang kami rindukan
Kini nampak jauh tak tergapai
Tatkala tiap hembusan paru-paru ini
Membawa perih meradang di dalam hati
Fajar menyingsing yang kami tunggu
Seperti tak pernah datang setiap waktu
Tertutup abu
Pekat menusuk
Dibalik penutup ini kami bernapas
Dibalik setiap derita yang kami jalani
Masih tersimpan harapan kembali
Ketika adik-adik kecil kami terbatuk-batuk
Bak menghisap racun disetiap pagi
Pagi yang seharusnya dirindukan
Kini tersisihkan oleh udara bersih yang amat dibutuhkan
Entah ulah siapa
Dan Karena siapa ini terjadi
Namun salah kami apa?
Kami hanyalah pelajar penyongsong hari esok
Kami pergi sekolah setiap matahari terbit
Namun kini ,
Kami tak rasakan matahari
Kami tak rasakan matahari
Kami ke sekolah untuk menuntut ilmu
Bukan meneguk abu
Diliburkan tiada henti
Kini materi pelajaran yang membuntang
menunggu kabut asap berhenti datang
seperti menunggu sebuah keajaiban dalam kandang
Gelisah setiap hari
Tatkala harus menerjang jalanan
Yang amat gelap tak terpandang lagi
Mata perih memerah
Lelah takkan terlukiskan
Kini membekas dihati setiap orang
Gelisah setiap hari
Tatkala harus menerjang jalanan
Yang amat gelap tak terpandang lagi
Mata perih memerah
Lelah takkan terlukiskan
Kini membekas dihati setiap orang
Salah kami apa?
Disiksa setiap waktu
Dipaksa menghabiskan jutaan oksigen kotor setiap harinya
Dibalik setiap sujud kami
tersisih satu harapan
tuk bisa mendapatkan kebebasan
tuk bisa mendapatkan kebebasan
hembusan napas yang amat dirindukan
Lalu sekarang salah siapa?
Apakah alam telah lelah pada kita semua?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar