By Azzahra Nanda Islami
Setiap orang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Karena memang pada dasarnya, bahagia adalah hakikat hidup setiap manusia. Aku terlahir di keluarga yang luar biasa hebatnya. Di keluarga yang sangat sederhana dengan setiap kebahagiaan yang ada. Kedua orang tua yang begitu sabar dan telaten membesarkanku dengan jutaan hambatan dan cobaan dari Allah . Jika ditanya "Apakah aku bahagia?" , maka dengan lantang dan tegas aku menjawab "Aku sangat bahagia" . Bagaimana bisa aku bahagia dengan segala kesedihan yang ada. Dengan segala ancaman kekecewaan dan keputusasaan.
Aku dilahirkan untuk menciptakan senyuman pada setiap orang. Aku ada disini untuk memberi kebahagiaan sekecil apapun untuk orang disekitarku. Bahagia, adalah satu kata yang begitu aku impikan kan terjadi selama hidup kita. Walau pada kenyataannya Allah selalu memberikan kebahagiaan setelah adanya kesedihan dan duka yang mendalam.
Aku tidak pernah ingin diminta untuk dikenang. Aku juga tidak pernah ingin namaku berada di museum atau dituliskan di media cetak untuk diketahui banyak orang. Aku adalah remaja perempuan berumur enam belas tahun biasa dan sama seperti remaja lainnya. Remaja yang menginginkan teman, persahabatan, kebebasan dan segalanya. Aku sama seperti mereka, hanya saja aku tak ingin orang tahu tentang ku. Tahu bagaimana perihnya hatiku saat begitu banyak cobaan menghantamku.
Aku divonis dokter terkena penyakit Diabetes Melitus di umur 11 tahun. Pada awalnya berat mengetahui bahwa perubahan besar dalam hidupku yaitu turunnya berat badan hingga 20kg dalam jangka waktu sebulan bukan bertanda bahwa pubertas atau keremajaan. Itu pertanda yang akan mengakibatkan puluhan tahun kedepan akan banyak perubahan-perubahan yang luar biaa dalam hidupku. Sebelum divonis dokter, aku baik-baik saja. Hanya aku selalu merasa haus dan ingin buang air kecil tanpa henti. Badanku lemas seperti tak bertenaga. Luka kecil yang ada ditubuhku tak kunjung mengering dan malah meninggalkan bekas. Pertama kali dokter memvonis, aku tak pernah tahu kalau hidupku akan berubah sederastis ini. Pola makan yang diatur, tidak boleh makan ini itu, perbanyak olahraga ditambah lagi harus suntik insulin setiap harinya. Dokter memberikanku insulin Novorapid dan Levemir. Novorapid disuntikkan 3 kali sehari sebelum makan pagi,siang dan malam. Sedangkan Levemir dipakai sekali sehari pada jam 10 malam.
Mendengar kata-kata jarun suntik. Siapa yang sudah bisa membayangkan betapa bahagianya hidupku kedepannya harus bersahabat dengan jarum-jarum itu setiap harinya. Alangkah bahagianya aku akan mengatur pola makan yang lebih sehat agar gula darah ku terjaga. Belum lagi cek organ tubuhku yang lain untuk pencegahan komplikasi dini. Begitu amat sangat bahagia. Sangat tak bisa kubayangkan bahwa hidupku nanti sama bahagianya seperti dongeng-dongeng yang aku impikan. Kedua orangtua yang selalu tabah mendampingiku dalam masa pengobatan dan check up. Adik-adikku yang selalu mengukir tawa disetiap jarum suntik yang masuk kedalam tubuhku. Dan sahabat-sahabatku yang luar biasa bisa menerimaku di berbagai kondisi tersulit dalam hidupku. Semua adalah kebahagiaan yang tak terbayarkan.
Ternyata bayanganku tentang masa depan bahagia benar. Allah benar tentang kebahagiaan yang Ia berikan kepada seluruh umatnya yang beriman. Semua benar-benar nyata.
Sampai saat itu tiba, Aku mulai bosan dan merasakan sakit yang amat luar biasa saat menyuntik, aku mulai malas mengatur pola makan dan tidak boleh makan ini itu sesuka hatiku. Aku mulai jarang menyuntik dan badanku semakin lemas. Aku memakan apapun yang kumau, disaat yang bersamaan muncul masalah dengan persahabatanku. Muncul masalah yang aku sendiri pun tidak mengerti mengapa aku harus disalahkan atas hal yang tidak kulakukan sama sekali. Aku mulai malas belajar, malas untuk bersekolah, malas untuk sholat. Timbul benci dan iri di hatiku. Kepada teman-temanku yang bis bebas makan ini itu tanpa harus mengatur pola makan sepertiku, Timbul benci kepada semua orang yang sehat dan tidak merasakan apa yang kurasakan. Timbul benci kepada semua keluarga harmonis yang begitu bahagia hidupnya. Sedangkan aku, semua masalah itu muncul tak berhenti dan tak terselesaikan. Kesehatan tubuhku yang menurun, gula darahku yang tak terjaga , Bullying yang menghampiriku, Tekanan batin karena permasalahan orang tua,ditambah lagi penyakit ASMA ku makin menjadi-jadi. Semua tampak tak berguna. Hidup bahagia yang aku impikan tak ada. Itu semua hanyalah hayalan yang tak akan pernah menjadi nyata. Semua bak sampah. tak bersisa. Aku benci hidupku yang sekarang. Aku menginginkan kehidupan ku yang lama. Mana kebahagiaan yang telah dijanjikan? Semua bohong padaku. Untuk apa aku tersenyum dan menyimpan masalah. Untuk apa aku berbahagia ditengah penderitaan yang tiada habisnya? untuk apa aku ada jika pada akhirnya aku tak diinginkan dan hanya akan dilupakan.
Itulah kegundahan hatiku yang hanya bisa kuluapkan lewat tulisan di secarik kertas buku harianku.
Aku mencari-cari sesuatu yang telah hilang dari diriku. Sesuatu yang telah direnggut dan tak bisa dikembalikan. Sesuatu yang akupun tak tahu apa itu. Kebahagiaan apa ini? Inikah kebahagiaan itu ya Allah..
Bersambung......(Part II)