Jumat, 25 Maret 2016

Antara Rasa dan Alasan

By Azzahra Nanda

Burung-burung hari ini sunyi
Seperti tak bersuara memendam rasa
Semilir angin hari ini sepi
Tak berudara tanpa alasan
Ingin rasanya kembali
Mengukir kisah indah
Melukis memori yang ada
Di setiap detik detik cinta
Aku pernah jatuh kedalam air terjun bahagia
Rasanya menenangkan
Tak terlupakan
Aku pernah menggenggam perasaan
Rasanya sejuk dan nyaman
Aku pernah terbang mengimpikan masa depan
Rasanya tentram tak terelakkan
Aku pernah jatuh 
Rasa sakit tak beralasan
Dan aku pernah mempertahankan rasa
Yang membuatku kokoh dan setia
Namun hingga detik ini
Hingga matahari masih menyilaukan di pagi buta ini
Tak ada yang bisa memberikanku arti
Memberikanku makna
Dan memberikanku sebuah alasan
Untuk apa aku mempertahankan ini?
Untuk apa aku mempertahankan cinta tanpa rasa?
Untuk apa semua genggaman ini kupertahankan lebih lama?
Aku butuh alasan
Namun tak kutemukan dimata indah itu
Tak jua kutemukan di suara merdu mu memanggil namaku
Alasan yang kuinginkan sejak pertama aku jatuhkan hatiku padamu
Entah apa arti dan makna dibalik sebuah alasan dan rasa
Apakah ini semua ada sangkut paut dengan bertahan dan kecewa?
Dan apakah aku harus selalu mengerti 
Ada apa dengan matahari
Yang bersembunyi
Dan ada apa pula dengan pelangi yang tak kunjung menerangkan arti
Antara rasa tiap tiap warna
Dan antara alasan warna itu dipilihnya
Kita semua butuh penjelasan
Ada apa dibalik rasa dan alasan yang tersimpan dipojok kesepian

Makna dibalik kecewa

By Azzahra nanda

Terik bersembunyi dibalik awan
Sesekali menyinarkan
Dan sesekali hanya diam
Kutahu hari ini awan abu menghampiri
Namun rintik semesta tak kunjung menjatuhkan harapannya
Kutahu pula gemuruh sudah berbisik
Tapi nampaknya hujan yang dirindukan belum juga sampai
Mungkin alam kecewa
Dan tak bisa mengekspresikan dirinya
Sama seperti diri ini
Tampak menghempaskan senyuman
Tatkala hati remuk dengan kekecewaan
Ketika semua orang hanya bisa menomorduakan segalanya
Melupakan sebuah berlian didasar lumpur
Tanpa melihat makna dibalik perjuangan memupuk senyum
Menghapus memori soal bahagia
Dan mengukir kekecewaan atas nama cinta
Ini benar ,Bukan soal cinta
Tapi soal persaudaraan antara peri-peri yang mengumbar senyum setiap hari
Antara pertemanan yang katanya akan abadi
Ini soal kepercayaan yang di simpan dan dihempaskan begitu saja
Dan ini tentang kita
Yang dulu erat tak terpisahkan
Dan sekarang jauh dari ujung batang
Jangan tanya apa makna kecewa
Uraikan saja lewat pecahan asa yang  tersingkir di badan jalan
Dan nanti orang akan tahu
Betapa perih ,hancur , dan meradangnya kekecewaan yang tak tersampaikan

Selasa, 09 Februari 2016

Malam Itu

By Azzahra Nanda

Malam itu hujan
Persis seperti hatiku saat itu
Malam itu ku hanya ingin sendiri
Meratapi gemuruhnya petir
Menghadapi rapuhnya cinta

Kita saling mencinta
Saling menjaga
Hanya saja
Semakin keras kita berusaha
Semakin dalam luka yang kita ukir bersama
Tak usah mencoba
Karena pada akhirnya tetap sama saja

Malam itu aku diam
Karena hatiku telah lelah berusaha
Malam itu ku coba tuk bertahan
Menahan tiap butiran perih yang tersimpan

Ingin rasanya tetap setia
Bertahan pada ini semua
Tapi sekali lagi kukatakan

Kita seperti selalu berusaha merubah arah angin di puncak mount everest
Kita seperti berusaha keras merubah gravitasi bumi

Semakin kita berusaha
Semakin tak mengubah apa-apa

Kau tahu mengapa?
Karena memang takkan mungkin bisa

Malam itu ku terpuruk,

Aku tak menyerah
Hanya saja diri ini telah lelah
Aku juga tak mendahului Tuhan
Hanya saja perih ini sudah teramat dalam
Aku tak bicara soal omong kosong
Aku berkata soal realita

Dan pada akhirnya
Kita sama-sama lelah bertahan
Lelah menggenggam terlalu lama
Sakit menahan luka akibat goresan yang kita torehkan
Di atas reruntuhan kaca yang sama-sama kita pijak

Dan sekali lagi kukatakan
Sekeras apapun kita berusaha
Akhir bahagia bukan milik kita

Kamis, 07 Januari 2016

Curahan Pagi

By Azzahra Nanda

Mentari menyilau malu
Bersembunyi dibalik hamparan awan

Cahaya kecil
Menembus titik-titik langit
Mengarahkan kilauan keagungan
Menebarkan jutaan aura kebahagiaan

Hanya saja hati ini masih sepi
Bak sepinya langit tanpa hadirnya bintang
Hati ini haus akan kasih sayang
Kering kerontang bak gunung sahara
Hati ini masih terlalu dingin tuk merasa kasih
Sedingin puncak mount everest
Diterjang badai salju
Menusuk rusuk terdalam menahan perih

Kutatap langit pagi
Kutarik dagu keatas 
Kutatap belaian embun pagi
Seakan berbicara tanpa suara
Menginginkan hati ini tuk siap
Tegar dan tabah

Walau kadang lelah
Ingin menyerah
Tapi tatkala mentari bertegur sapa tanpa cahaya
Hanya ada kehangatannya yang terasa
Kuberpikir ulang
Tuk bahagiakan senyuman itu
Demi menata hati
Untuk cinta sehidup semati 

Rabu, 06 Januari 2016

Ruang Kosong

By Azzahra Nanda

Kadang ku terdiam di pojok ruangan
Menatap kesepian yang tersimpan rapat dari semua orang
Tak ada yang tahu apa isi hatiku
Dan takkan ada yang mengerti apa jadinya ini
Ku terduduk jatuh
Menatap kelamnya langit penuh bintang 
Tenggelam jauh dalam setiap tatapannya
Ku menangis redam di dalam ruang kosong
Sendiri senyap menyepi
Tak ada seorangpun tahu
Apa yg sedang kuresapi
Akupun tak pernah tau
Apa ini
Ketika hati ini mulai meradang
Merasa kerinduan berkepanjangan
Merindukan setiap dekapan
Ingin merasakan setiap kehangatan
Ku merindukanmu
Dari setiap apapun yang ada pada dirimu
Kepribadianmu
Cara mu berbicara
Dan tatapan indah itu
Hanya saja kadang ku tak mengerti
Bagaimana bisa ku berbicara mengenai kerinduan ini
Lewat sajak-sajak kecil yang tak ada gunanya seperti ini
Lewat kata-kata yang tak akan pernah bisa berbuat sesuatu tuk menjauhkan kerinduan itu
Dan aku masih tetap merindukanmu
Terduduk rapuh diujung jalan
Menunggu keajaiban datang
Lewat sebait kerinduan

365

By Azzahra Nanda

Banyak hal yang telah kita pelajari dalam 365 hari
Belajar bagaimana tetap bersyukur atas apapun yang telah Allah beri
Belajar bagaimana selalu tetap tersenyum ikhlas pada semua
Belajar menghargai setitik kebaikan dari siapapun
Belajar untuk mengerti bahwa setiap kejadian memiliki satu makna kebahagiaan 
Dan belajar memahami bahwa tak ada satu detik dalam hidup ini yang tak berarti
Terkadang kita marah, kesal dan kecewa 
Marah mengapa kehidupan sesulit ini
Kesal mengapa hidup kita tak sama dengan orang lain
Dan kecewa ketika tersakiti
Tapi pernahkah kita renungi
Semua kejadian dalam 365 hari
Telah mengajari
Kesenandungan doa yang kita panjatkan tiap malam
Usaha kerja keras penuh peluh di setiap  harinya
Menghasilkan pribadi diri ini lebih baik
Menjadikan kita mengerti apa arti kebahagiaan sesungguhnya
Mengajarkan kita untuk bersabar dalam setiap doa
Menuntun kita pada surga-Nya
Cukup 365 hari
Untuk senantiasa memberi makna
Dan dalam 365 hari
Seharusnya kita bisa mengerti bahwa Allah lah Maha segala-galanya

Minggu, 25 Oktober 2015

Cerpen: Happiness

By Azzahra Nanda Islami

Setiap orang menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Karena memang pada dasarnya, bahagia adalah hakikat hidup setiap manusia. Aku terlahir di keluarga yang luar biasa hebatnya. Di keluarga yang sangat sederhana dengan setiap kebahagiaan yang ada. Kedua orang tua yang begitu sabar dan telaten membesarkanku dengan jutaan hambatan dan cobaan dari Allah . Jika ditanya "Apakah aku bahagia?" , maka dengan lantang dan tegas aku menjawab "Aku sangat bahagia" . Bagaimana bisa aku bahagia dengan segala kesedihan yang ada. Dengan segala ancaman kekecewaan dan keputusasaan.
Aku dilahirkan untuk menciptakan senyuman pada setiap orang. Aku ada disini untuk memberi kebahagiaan sekecil apapun untuk orang disekitarku. Bahagia, adalah satu kata yang begitu aku impikan kan terjadi selama hidup kita. Walau pada kenyataannya Allah selalu memberikan kebahagiaan setelah adanya kesedihan dan duka yang mendalam.
Aku tidak pernah ingin diminta untuk dikenang. Aku juga tidak pernah ingin namaku berada di museum atau dituliskan di media cetak untuk diketahui banyak orang. Aku adalah remaja perempuan berumur enam belas tahun biasa dan sama seperti remaja lainnya. Remaja yang menginginkan teman, persahabatan, kebebasan dan segalanya. Aku sama seperti mereka, hanya saja aku tak ingin orang tahu tentang ku. Tahu bagaimana perihnya hatiku saat begitu banyak cobaan menghantamku.
Aku divonis dokter terkena penyakit Diabetes Melitus di umur 11 tahun. Pada awalnya berat mengetahui bahwa perubahan besar dalam hidupku yaitu turunnya berat badan hingga 20kg dalam jangka waktu sebulan bukan bertanda bahwa pubertas atau keremajaan. Itu pertanda yang akan mengakibatkan puluhan tahun kedepan akan banyak perubahan-perubahan yang luar biaa dalam hidupku. Sebelum divonis dokter, aku baik-baik saja. Hanya aku selalu merasa haus dan ingin buang air kecil tanpa henti. Badanku lemas seperti tak bertenaga. Luka kecil yang ada ditubuhku tak kunjung mengering dan malah meninggalkan bekas. Pertama kali dokter memvonis, aku tak pernah tahu kalau hidupku akan berubah sederastis ini. Pola makan yang diatur, tidak boleh makan ini itu, perbanyak olahraga ditambah lagi harus suntik insulin setiap harinya. Dokter memberikanku insulin Novorapid dan Levemir. Novorapid disuntikkan 3 kali sehari sebelum makan pagi,siang dan malam. Sedangkan Levemir dipakai sekali sehari pada jam 10 malam.
Mendengar kata-kata jarun suntik. Siapa yang sudah bisa membayangkan betapa bahagianya hidupku kedepannya harus bersahabat dengan jarum-jarum itu setiap harinya. Alangkah bahagianya aku akan mengatur pola makan yang lebih sehat agar gula darah ku terjaga. Belum lagi cek organ tubuhku yang lain untuk pencegahan komplikasi dini. Begitu amat sangat bahagia. Sangat tak bisa kubayangkan bahwa hidupku nanti sama bahagianya seperti dongeng-dongeng yang aku impikan. Kedua orangtua yang selalu tabah mendampingiku dalam masa pengobatan dan check up. Adik-adikku yang selalu mengukir tawa disetiap jarum suntik yang masuk kedalam tubuhku. Dan sahabat-sahabatku yang luar biasa bisa menerimaku di berbagai kondisi tersulit dalam hidupku. Semua adalah kebahagiaan yang tak terbayarkan.
Ternyata bayanganku tentang masa depan bahagia benar. Allah benar tentang kebahagiaan yang Ia berikan kepada seluruh umatnya yang beriman. Semua benar-benar nyata.
Sampai saat itu tiba, Aku mulai bosan dan merasakan sakit yang amat luar biasa saat menyuntik, aku mulai malas mengatur pola makan dan tidak boleh makan ini itu sesuka hatiku. Aku mulai jarang menyuntik dan badanku semakin lemas. Aku memakan apapun yang kumau, disaat yang bersamaan muncul masalah dengan persahabatanku. Muncul masalah yang aku sendiri pun tidak mengerti mengapa aku harus disalahkan atas hal yang tidak kulakukan sama sekali. Aku mulai malas belajar, malas untuk bersekolah, malas untuk sholat. Timbul benci dan iri di hatiku. Kepada teman-temanku yang bis bebas makan ini itu tanpa harus mengatur pola makan sepertiku, Timbul benci kepada semua orang yang sehat dan tidak merasakan apa yang kurasakan. Timbul benci kepada semua keluarga harmonis yang begitu bahagia hidupnya. Sedangkan aku, semua masalah itu muncul tak berhenti dan tak terselesaikan. Kesehatan tubuhku yang menurun, gula darahku yang tak terjaga , Bullying yang menghampiriku, Tekanan batin karena permasalahan orang tua,ditambah lagi penyakit ASMA ku makin menjadi-jadi. Semua tampak tak berguna. Hidup bahagia yang aku impikan tak ada. Itu semua hanyalah hayalan yang tak akan pernah menjadi nyata. Semua bak sampah. tak bersisa. Aku benci hidupku yang sekarang. Aku menginginkan kehidupan ku yang lama. Mana kebahagiaan yang telah dijanjikan? Semua bohong padaku. Untuk apa aku tersenyum dan menyimpan masalah. Untuk apa aku berbahagia ditengah penderitaan yang tiada habisnya? untuk apa aku ada jika pada akhirnya aku tak diinginkan dan hanya akan dilupakan.
Itulah kegundahan hatiku yang hanya bisa kuluapkan lewat tulisan di secarik kertas buku harianku.
Aku mencari-cari sesuatu yang telah hilang dari diriku. Sesuatu yang telah direnggut dan tak bisa dikembalikan. Sesuatu yang akupun tak tahu apa itu. Kebahagiaan apa ini? Inikah kebahagiaan itu ya Allah..
Bersambung......(Part II)